Cuaca Buruk, Nelayan di Jembrana Takut Melaut

img 20230110 wa0012
NELAYAN - Akibat cuaca buruk, para nelayan takut untuk melaut.

Negara, DENPOST.id

Belakangan ini wilayah perairan selatan Jembrana juga sempat terdampak siklon tropis ellie yang melanda daratan Australia.
Kondisi ini membuat gelombang air laut tinggi. Hampir dua pekan nelayan tradisional di pesisir Jembrana tidak melaut.

Meskipun cuaca buruk sudah mulai mereda, namun nelayan masih takut untuk melaut.
Salah seorang nelayan tradisional asal Banjar Pesinggahan, Desa Medewi Pekutatan, Sumari (50), Senin (9/1/2023) sore mengatakan, beberapa nelayan di pelabuhan rakyat sekitar muara Tukad Yeh Satang selama cuaca buruk memberanikan diri untuk melaut dan sempat terjadi musibah.

Baca juga :  Banjir Bandang Rusak Puluhan Hektar Sawah di Karangasem

Menurutnya, dua minggu tidak berani pergi melaut karena anggin kencang dan ombaknya besar. “Hanya beberapa teman saja yang berani pergi melaut. Minggu lalu dua hari berturut-turut ada dua jukung yang terbalik diterjang ombak tinggi,” ungkap Anggota Kelompok Nelayan Setia Dewi ini.

Hal senada dikatakan nelayan di pelabuhan rakyat sekitar muara Pangkung Jukung, Banjar Pasar Desa Pekutatan yang juga Pengurus Kelompok Nelayan Sumber Sari Karya, Faturahman (42). Dia mengaku setelah dua minggu tidak melaut karena angin kencang dan ombak tinggi, Senin kemarin beberapa nelayan mulai melaut lagi. “Ombaknya mulai reda dari Minggu (8/1/2023). Sekarang sebagian besar melautnya masih siang hari. Sebenarnya waswas, tapi karena musim ikan layur, terpaksa melaut. Hasil tangkapannya juga belum terlalu banyak” ujarnya.

Baca juga :  Suwirta Dorong UP2K Miliki Izin Edar

Dikatakan pula, pelabuhan rakyat di sekitar muara Pangkung Jukung ini digunakan untuk pendaratan ratusan jukung milik nelayan dari Desa Pekutatan dan Desa Pulukan.

Solihin (70) asal Banjar Loji, Pulukan juga mengaku dua minggu tidak melaut akibat cuaca buruk. “Ini baru mulai melaut lagi, kebetulan juga musim ikan layur. Dua minggu sempat tidak berani pergi melaut. Jelas yang pertama kami pikirkan adalah keselamatan saat di laut karena anginnya kencang dan ombaknya tinggi,” jelasnya.

Baca juga :  Memberi Makna Indonesia, BRI Cetak Laba Rp 32,22 T

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jembrana, Solihin saat dimintai konfirmasi mengatakan, cuaca ekstrem tersebut sudah berangsur mereda.
“Sekarang memang sudah mulai mereda. Walaupun penyebab angginnya sudah hilang, tapi tidak seketika mereda begitu saja. Beberapa wilayah memang gelombangnya masih tinggi. Kalau wilayah selatan Jembrana, yakni sekitar perairan selat Bali bagian selatan gelombangnya sedang,” pungkasnya. (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini