Puluhan Ekor Penyu Hijau Diamankan TNI AL di Pesisir Kelatakan

picsart 23 01 13 18 51 50 768
PENYU HIJAU - Puluhan ekor penyu hijau yang diamankan TNI AL di Selat Bali.

Negara, DENPOST.id

TNI Angkatan Laut (AL) mengamankan 43 ekor penyu yang diangkut dengan 2 perahu, saat melakukan patroli laut di Selat Bali, Kamis (12/1/2023) malam. Dua terduga pelaku melarikan diri, saat melihat petugas.

Komandan Lanal (Danlanal) Denpasar, Kolonel Marinir I Dewa Nyoman Gede Rake Susilo, Jumat (13/1/2023), mengatakan pihaknya mendapatkan informasi terkait adanya penyelundupan penyu.

Kemudian dilaksanakan patroli di wilayah Selat Bali menggunakan sea reader, di mana ditemukan anggota pada pukul 22.00 Wita, sudah mulai indikasi adanya penyelundupan. Dua perahu bermotor mencurigakan sandar di pesisir Pantai Banjar Kelatakan, Desa Melaya, Kecamatan Melaya.

Saat dilakukan penyergapan, dua terduga pelaku berhasil melarikan diri dan meninggalkan barang bukti berupa 43 ekor penyu hijau dan perahu sampan dengan 4 motor tempel.
Penyu hijau, lanjut dia, banyak diselundupkan ke wilayah Bali dengan kedok kegiatan agama, namun itu ada batasannya.

Baca juga :  Lagu "Bogbog", Improvisasi Agung Wirasutha Tentang Cinta Terlarang

Pihaknya mengaku akan tetap melakukan operasi keamanan laut sepanjang tahun di perairan Bali, dan menginfokan ke masyarakat bahwa penyu itu dilarang ditangkap karena merupakan hewan langka.

Ke-43 ekor penyu hijau itu, lantas diserahkan ke BKSDA Bali untuk dilakukan observasi.

Sementara Kasubag TU BKSDA Bali, Prawono Meruanto mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara oleh tim BKSDA Bali, bahwa umur dari 43 penyu yang berhasil disita TNI AL Gilimanuk berkisar antara 10 sampai 40 tahun. Untuk panjang yang paling besar sekitar 101 cm, serta yang paling kecil dengan panjang sekitar 46 cm.

Baca juga :  Polres Jembrana Bentuk Satgas Satpam

Prawono juga menjelaskan dari total 43 penyu yang berhasil diamankan petugas, beberapa kondisi penyu juga mengalami tumor dan kerapasnga ditumbuhi parasit, sehingga perlu dilakukan penanganan sebelum dilakukan pelepasliaran ke habitatnya. “Kita akan observasi lebih lanjut, ketika sudah sehat baru dilepasliarkan,” pungkasnya. (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini