Jika Peduli Rakyat Kecil, Gubernur Diminta Kembalikan HET Gas Melon

piji1
BELI GAS MELON – Salah satu aktivitas bongkar-muat tabung elpiji 3 kg di Jembrana pascakenaikan HET dari Rp14.500/tabung menjadi Rp18.000/tabung. (DenPost.id/witari)

Denpasar, DenPost

Jeritan rakyat kecil semakin nyaring pascadiberlakukannya harga eceran tertinggi (HET) elpiji subsidi 3 kg (gas melon) pada Senin (16/1) lalu. Para pedagang di Denpasar mengaku sangat keberatan dengan kenaikan HET yang cukup tinggi itu, sehingga merugikan usaha rakyat kecil di tengah berjuang keras memulihkan perekonomian pascapandemi covid-19.

Pedagang godoh (pisang goreng), Made Latri, di Denpasar Timur (Dentim), Jumat (20/1) kemarin mengaku tak habis pikir dengan Hiswana Migas yang menaikkan HET gas melon khusus untuk di Bali. Sedangkan di daerah lain, harga gas melon masih seperti biasa karena para pejabat  paham akan kondisi rakyat kecil dewasa ini. ‘’Tanpa kenaikan harga gas melon saja, saya memperoleh untung sangat sedikit sebab harga pisang dan tepung juga mahal. Bagaimana nasib kami jika gas kompor penggoreng godoh harganya selangit? Kami harap pemerintah memperhatikan nasih kami, rakyat kecil,’’ ujar wanita yang menjual godoh sebelum pandemi ini.

Latri menambahkan jika  benar-benar ingin memperjuangkan UMKM dan rakyat kecil, ketimbang pengusaha kaya, sebaiknya Gubernur Bali Wayan Koster menurunkan HET gas melon seperti semula (Rp14,500/tabung). Hal itu perlu dilakukan karena perekonomian masyarakat Bali belum pulih benar. Selama ini rakyat (pedagang kecil) justru tengah berjuang keras memulai usaha lagi setelah hampir dua setengah tahun dilanda pandemi. ‘’Jika kondisi perekonomian Bali atau nasional sudah normal, barulah dipikirkan kenaikkannya. Tapi jangan terlalu tinggi juga, karena beban pedagang cukup berat. Belum lagi ketatnya persaingan,’’ tandasnya.

Di tempat terpisah, pedagang mie ayam, Jamaludin, mengaku sempat berpikir menghentikan jualan, karena HET gas melon sangat tinggi. Jika pemerintah mematok harga gas melon Rp18.00/tabung, harga di pasaran tentu lebih tinggi, karena ada ongkos transport dan lain-lain. Harganya bisa saja antara Rp21 ribu hingga Rp22 ribu/tabung. ‘’Mohon pemerintah peduli dengan kami pedagang keci. Pastikan dulu perekonomian kita normal,’’ tandas Udin—panggilannya.

Baca juga :  PMI Asal Denpasar Wajib Karantina 28 Hari

Sedangkan pedagang kaki lima (PKL), Itun, yang menjual sosis di sekitar Alun-alun Ida I Dewa Agung Jambe, Klungkung, mengaku pasrah dengan naiknya HET gas melon. “Mau apa lagi? Saya membeli gas melon Rp20 ribu/tabung. Dari kemarin (Senin) kayaknya naik sebesar Rp2.000,” ungkapnya.

Dengan kenaikan harga gas bersubsidi ini, Itun juga tidak berani menaikkan harga dagangannya. Dia justru khawatir kehilangan langganan jika sampai menaikkan harga sosis yang dia jual. Apalagi pedagang sosis di sekitar alun-alun cukup banyak, sehingga tidak mudah untuk meraup untung. “Naiknya harga gas ini pasti sangat berdampak. Yang penting, kami dapat beli gas aja. Kalau sampai langka, kami nanti ndak bisa jualan,” tandas Itun.

Baca juga :  Satpol PP dan Dishub Klungkung "Kucing-kucingan" Tertibkan Pedagang Bermobil

Hal senada dikatakan pedagang bakso keliling, Kodir. Menurut dia, naiknya harga gas melon sebesar Rp 2.000, masih bisa membuatnya berjualan. Dia berharap pascakenaikan harga ini, tidak terjadi kelangkaan gas di masyarakat. “Yang penting saya dapat beli gas. Ketimbang tidak bisa masak dan jualan gara-gara gas langka,” tandasnya.

Ketua Hiswana Migas Bali Dewa Ananta sebelumnya mengungkapkan bahwa penyesuaian HET gas melon ini bertujuan agar agen-agen punya sandaran peraturan baru (payung hukum) untuk menjual gas melon ke masyarakat. Dengan demikian tata niaga elpiji 3 kg menjadi aman dan legal. Kenaikan HET ini sesuai Peraturan Gubernur Bali No.63 Tahun 2022 tentang perubahan ketiga atas Pergub No.48 Tahun 2014 mengenai HET elpiji 3 kg.

Baca juga :  Meresahkan, Calo Pengantar ke Klinik Rapid Test di Gilimanuk akan Ditertibkan

Menurut Dewa Ananta, kenaikan harga gas melon didasarkan atas harga yang terbentuk sejak lama di masyarakat yakni sejak harga Rp17 ribu hingga Rp19 ribu di pasaran. Selain itu, kenaikan ini didasari kondisi makro dan mikro ekonomi sekarang, khususnya kenaikan harga BBM. Hal ini, menurut Dewa Ananta, memicu harga-harga sparepart untuk operasional para agen, sehingga menjadi tak efisien lagi, malahan jauh dari efisien.

Pengusaha elpiji dan SPBU ini menambahkan pengajuan penyesuaian HET ini sudah dibuatkan dan dipresentasikan ke Pemprov Bali oleh akademisi independen yang diminta bantuan secara profesional oleh Hiswana Migas Bali. ‘’Semuanya berdasarkan data-data aktual dan terkini. Jadi tidak ngawur. Juga referensi-referensi terkait,’’ ungkap Dewa Ananta, lewat pesan WhatsApp (WA).

Kenapa implementasinya pada 16 Januari 2023 padahal SK Gubernur Bali ditandatangani 1 Des 2022? ‘’Ya karena masih ada rentetan hari raya Natal dan tahun baru, dilanjutkan dengan ke Galungan dan Kuningan,’’ tandas pria asal Gianyar ini. (yad/wia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini