Keluarga Korban Pemerkosaan Desak Terduga Pelaku Ditangkap

picsart 22 06 28 20 07 43 720
Ilustrasi

Negara, DENPOST.id

Keluarga korban pemerkosaan di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana mendesak pihak kepolisian segera menangkap kedua terduga pelaku. Ditemui di rumah korban yang terletak di pelosok desa, Senin (23/1/2023), keluarga korban mengharapkan keadilan.
“Kenapa kedua pelaku belum juga ditangkap? Kami khawatir. Takutnya jika tidak diberikan efek jera mereka terus melakukan pelecehan terhadap anak dan jadi predator anak,” kata Luh P, bibi korban.

Apalagi menurutnya, salah seorang pelaku yakni GP (55) merupakan seorang residivis yang pernah dipenjara juga karena kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur.
Luh P mengungkapkan, korban yang anak yatim dan tinggal bersama neneknya yang tidak mampu ini diketahui dicabuli berawal ketika korban mengaku belum haid dan minta dibelikan minuman bersoda. Bahkan, korban mengaku sempat disuruh beli kondom oleh pelaku. Setelah diusut ternyata korban dicabuli oleh GP dua kali di rumput dekat kandang sapi. Kemudian juga sempat dicabuli dua kali juga oleh terduga pelaku lain yakni PN (60) di lokasi yang sama. “Kami khawatir jika mereka tidak ditangkap akan ada korban baru,” jelasnya.

Baca juga :  Kloset di Samping Pelinggih Itu Akhirnya Dibongkar

Bahkan, salah satu terduga pelaku yakni PN dikatakan beberapa kali sempat melakukan dugaan intimidasi kepada keluarga serta korban.
“Salah satu pelaku yakni PN sudah mengakui perbuatannya, sehingga beberapa kali sempat datang ke rumah untuk memaksa berdamai, dan menawarkan sejumlah uang serta meminta mencabut tuntutan. Namun kami tetap bersikeras untuk melanjutkan kasus ini. Ini masalah harga diri. Sementara pelaku lain GP (55) masih bersikeras tidak mengakui perbuatannya,” imbuh paman korban, KED (42).

Paman korban juga membenarkan bahwa korban sempat diiming-imingi upah sebesar Rp 25 ribu untuk membeli minuman serta mendesak agar korban tidak menceritakan tindakan asusila yang dilakukan oleh pelaku. “Katanya sempat diberikan uang Rp 25 ribu oleh pelaku PN ini untuk beli minum,” paparnya.

Baca juga :  Lagi, Empat Pasien Covid-19 di Bali Meninggal Dunia

Disinggung mengenai sejumlah saksi yang dipanggil, dirinya menjelaskan bahwa ada empat saksi yang dipanggil, di antaranya paman korban, bibi korban serta korban. “Kalau yang saya tahu itu saja yang dipanggil dan langsung dilakukan visum kepada korban. Sampai saat ini katanya masih menunggu hasil visum,” jelasnya.

Kapolres Jembrana, AKBP Dewa Gede Juliana, mengaku mengatensi khusus kasus ini. Demikian juga Bupati Jembrana, I Nengah Tamba berharap tidak ada lagi kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur di wilayahnya.

Baca juga :  Cegah Rabies, Pemkab Jembrana Tekan Populasi Anjing Liar

Di sisi lain, Ketua Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali, Ni Luh Gede Yastini, S.H., saat dimintai konfirmasi terkait kasus ini mengaku sudah berkoordinasi dengan UPTD PPA Jembrana agar mendampingi korban dan keluarganya. Pihaknya mendorong proses hukum harus terus berjalan. “Kasus kekerasan seksual terhadap anak bukan kasus yang bisa dilakukan perdamaian. Aparat penegak hukum harus serius dalam menangani dan menindak tegas pelaku kekerasan seksual terhadap anak,”desaknya.  (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini