Peringatan Hari Arak Bali, Pacu Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pulau Dewata

kosterku1
Agus Gelgel Wirasuta, Ketut Udi Prayudi dan I Wayan Jarta

Penetapan 29 Januari sebagai Hari Arak Bali yang digagas Gubernur Bali Wayan Koster melalui Surat Keputusan (SK) No.929/03-I/HK/2022 terus mendapat respon positif. Selain bertujuan menghidupkan tradisi budaya Bali yang diwariskan oleh leluhur, peringatan Hari Arak Bali juga dinilai sebagai upaya memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali yang berprofesi sebagai petani dan perajin arak bali.

AHLI Farmasi Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Drs. I Made Agus Gelgel Wirasuta, Apt, M.Si., Rabu (25/1/2023) menyebut Bali sebagai penghasil devisa pariwisata paling tinggi di Indonesia, seharusnya menangkap peluang ekonomi di sektor pariwisata dengan memberdayakan potensi alam dan warisan budaya yang dianugerahi berupa minuman fermentasi dan/atau destilasi yakni arak bali. “Ada 80 persen minuman beralkohol beredar di Bali, namun sebelum ada Pergub Bali No.1 Tahun 2020 tentang tata kelola minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali, minuman arak bali tidak boleh beredar di hotel/restoran. Kini bersyukur minuman fermentasi ini sampai masuk hotel/restoran setelah ditata dengan baik melalui Pergub No.1/2020,” tegas Prof.Gelgel.

Untuk itu, penataan minuman arak bali sesuai kebijakan Gubernur Koster merupakan upaya membangun ekonomi berbasis kerakyatan. Kalau ekonomi ini terbangun dengan gotong royong, maka penghasilan ekonomi rakyat yang berprofesi sebagai petani dan perajin arak akan meningkat. Dengan demikian, para petani dan perajin akan memelihara budaya destilasinya, dan memelihara tanaman-tanaman (pohon enau, pohon kelapa, dan pohon ental) yang memproduksi arak bali. “Petani arak bali akan memberikan kebanggaan terhadap Pulau Bali ketika para wisatawan yang berlibur di Pulau Dewata mulai mencintai arak bali sebagai minuman kesukaannya. Orang yang berwisata juga akan membawa cerita, bahwa wisatawan yang ke Bali tidak mencari wine, brandy, whiskey, namun ke Bali mencari arak bali karena cita rasanya yang khas dan enak. Nah inilah tujuannya Bapak Gubernur Bali Wayan Koster memberikan keberpihakan terhadap minuman tradisional arak bali yang diwujudkan berupa Pergub No.1/2020 hingga peringatan Hari Arak Bali agar petani dan perajin arak mendapat manfaat ekonomi. Bukan malah Hari Arak Bali dipelesetkan ke arah yang mengajak masyarakat untuk mabuk-mabukan,” tandas Gelgel.

Baca juga :  Asita Klaim Akomodasi Pariwisata di Bali Matang Terapkan Prokes

Ketua Yayasan Konsumen Bali Ketut Udi Prayudi juga menyampaikan dukungan terhadap kebijakan Gubernur Koster dengan ditetapkannya tanggal 29 Januari sebagai Hari Arak Bali. Ketua Yayasan Konsumen Bali, yang bertugas mengedukasi konsumen ini mendukung peringatan Hari Arak Bali, karena melihat Gubernur Koster adalah pemimpin yang menjaga tradisi budaya Bali, salah satunya berupa minuman tradisional lokal Bali berupa arak bali. Minuman ini kini ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Juga telah mendapat Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Arak Bali juga mendapat izin edar dari Badan POM RI dan pita cukai dari Kanwil Bea dan Cukai Provinsi Bali, sehingga produksinya pasti diatur sampai diawasi sesuai semangat Pergub Bali No.1 Tahun 2020 tentang tata kelola minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali.

“Bapak Wayan Koster mengeluarkan keputusan ini saya yakin didasari perhitungan yang cermat. Saya cermati, Bapak Gubernur Bali Wayan Koster adalah pemimpin yang berani mengambil risiko demi mengangkat harkat arak bali yang dulu tidak mendapat perhatian, tapi kini mendapat keberpihakan dari Gubernur Wayan Koster,” tegas Udi Prayudi, sambil menambahkan bahwa Gubernur Koster patut diapresiasi keberaniannya yang melindungi petani dan perajin arak bali.

Baca juga :  PPKM di Denpasar, Tak Perlu Bawa Surat Hasil Swab dan Rapid Antigen

Lebih lanjut Ketua Yayasan Konsumen Bali ini berpandangan saatnya kita memberi kesempatan kepada Pemprov Bali untuk merealisasikan kebijakannya, termasuk memperingati Hari Arak Bali sebagai wujud nyata untuk memberikan keberbihakan totalitas kepada petani, pelaku IKM/UMKM/koperasi agar tujuan kesejahteraan tercapai.

Yayasan Konsumen Bali, yang juga bertugas mengawasi perdagangan, pelaku usaha, dan mengawasi hal-hal yang bersifat merugikan konsumen, baik secara kesehatan dan ekonomi, dalam pandangannya lebih condong mengajak masyarakat kritis untuk bersuara memerangi peredaran arak gula. Hal itu karena arak gula mengancam tradisi dan kelestarian minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali dengan bahan baku lokal. Arak gula pula mengancam kesejahteraan para petani dan perajin arak, karena merugikan harga pasar. Arak gula juga mematikan citarasa dan branding arak bali, serta arak gula membahayakan kesehatan masyarakat, karena disebutkan di dalam destilasinya mengandung ragi dan tentu bertentangan dengan Pergub Bali No.1 Tahun 2020.

Baca juga :  Empat Perbekel Petahana Tetap Unggul di Pilkel Desanya Masing-masing

Sedangkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali I Wayan Jarta membeberkan perkembangan positif yang dihasilkan oleh implementasi Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 i. Menurut Wayan Jarta, jumlah perajin/petani arak bali meningkat dari 920 KK tahun 2019 menjadi 1.486 KK tahun 2022. Kemudian jumlah tenaga kerja dari 1.820 orang tahun 2019 meningkat pesat menjadi 4.458 tenaga kerja tahun 2022. “Hal ini juga diiringi jumlah koperasi yang menjadi distributor arak bali. Sampai tahun 2022 ada sembilan koperasi dengan jumlah varian produk/merk minuman beralkohol berbahan baku arak bali yang dijual secara legal di tempat penjualan eceran mencapai 12 merk dagang tahun 2021, kemudian naik menjadi 32 merk dagang tahun 2022,” pungkasnya. (dwa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini