Warga yang Bakar Diri di Setra Gunaksa Meninggal Dunia

picsart 23 11 06 19 19 34 804
BAKAR DIRI - Kondisi Nyoman Jiten, warga yang nekat bakar diri di kuburan Desa Gunaksa, saat masih dirawat di RSUD Klungkung, Minggu (5/11/2023).

Semarapura, DENPOST.id

Setelah tiga hari dirawat intensif di RSUD Klungkung, I Nyoman Jiten (66) warga yang nekat bakar diri di kuburan Desa Gunaksa, meninggal dunia, Minggu (5/11/2023) malam. Padahal warga asal Banjar Patus, Desa Gunaksa ini, sempat mau dirujuk ke RSUP Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Denpasar (RS Sanglah) karena kondisinya yang terus menurun.

“Pasien (Nyoman Jiten) sudah meninggal dunia sekitar pukul 23.00 Wita,” ujar Humas RSUD Klungkung, I Gusti Putu Widiasa, Senin (6/11/2023).

Menurut Gusti Putu Widiasa, Nyoman Jiten sudah dalam kondisi kritis saat mendapatkan perawatan di ICU RSUD Klungkung. Sebelumnya, operasi sudah dilakukan terhadap Nyoman Jiten yang mengalami luka bakar sekujur tubuhnya. Tim dokter menilai luka bakar yang dialami Nyoman Jiten mencapai derajat tiga.

Selain mengalami luka bakar serius, pasien juga diketahui memiliki penyakit penyerta, sehingga di RSUD Klungkung ditangani oleh dokter spesialis bedah dan dokter spesialis dalam. Bahkan karena mengalami luka bakar yang parah, rencananya Jiten akan dirujuk ke Burn Unit RS Prof. Ngorah. Namun hal itu belum bisa dilakukan, karena kondisinya kritis.

“Pasien sempat bisa berkomunikasi selepas operasi, namun kondisinya makin menurun sejak, Minggu (5/11/2023) siang. Karena kondisi pasien kritis, jadi pasien belum bisa dirujuk. Pasien juga harus menggunakan ventilator (alat bantu pernafasan),” ungkapnya.

Sementara Perbekel Desa Gunaksa, I Wayan Sadiarna ketika dikonfirmasi mengatakan kalau jenazah Nyoman Jiten masih dititip di RSUD Kabupaten Klungkung. Rencananya, pihak keluarga akan menggelar kremasi terhadap jenazah Jiten, Senin (13/11/2023).

“Nanti dari rumah sakit langsung dibawa ke krematorium karena kondisi tubuh jenazah yang bengkak,” ungkap Sadiarna.

Sadiarna berharap ada bantuan untuk keluarga Jiten dalam proses upacara yang akan dilaksanakan, karena keluarganya merupakan warga miskin dengan dua anak dan satu istri. Di mana, selama ini korban adalah pekerja serabutan dan diduga depresi karena tidak ada pekerjaan. (119)